About

The consultancy born at the intersection of behavioral economics and human experience.

NOW HIRING

Join a team reshaping how the world experiences brands.

View open roles →

COMPANY

GROW WITH US

CONNECT

Services

Comprehensive CX and management consulting for enterprise brands.

ALL SERVICES

Explore the full range of CX & management consulting services.

Browse all services →

CORE

SPECIALIST

Solutions

Structured solutions that turn CX ambition into measurable outcomes.

ALL SOLUTIONS

Explore every CX solution we offer.

Browse solutions →

STRATEGY & GOVERNANCE

DESIGN & DELIVERY

CULTURE & EXPERIENCE

Industries

A decade of CX transformation across the region's defining sectors.

ALL INDUSTRIES

See how we work across every sector.

Browse industries →

BUILT ENVIRONMENT

FINANCE & TECH

PEOPLE & MOBILITY

Products

Proprietary tools, platforms, and AI that power CX transformation.

ALL PRODUCTS

Explore the full Renascence product ecosystem.

Browse products →

AI & TECHNOLOGY

LEARNING & GAMES

PLATFORMS & TOOLS

AI PRODUCTS

Opinion

Insights, research, and conversations at the frontier of CX.

ReadExperience JournalArticles & research on CX, behavior, and transformation.Watch & listenExperience LoomOur video podcast on CX & behavior.CuratedCX NewsIndustry news that matters in CX, minus the noise.

Latest articles

Latest episodes

Latest news

Hub

Free tools, templates, and resources to advance your CX practice.

NEW · MANIFESTO

Burn the Deck. Ten Virtues. Zero Excuses. — read our manifesto for the brave consultant.

Start reading →

AI TOOLS

FREE TOOLS

LEARNING

CULTURE

General · 13 September 2026

Luhut: 50 Juta Data Warga Miskin Masuk Perlinsos Digital

Menko Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan data sekitar 50 juta warga tidak mampu di Indonesia akan segera diintegrasikan ke sistem perlindungan sosial (perlinsos) digital agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran.

Newsdesk
Curated briefing · 2 min read

Apa yang terjadi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa data sekitar 50 juta warga tidak mampu di Indonesia akan segera diintegrasikan ke dalam sistem data perlindungan sosial (perlinsos) digital. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk merapikan basis data penerima bantuan sosial agar penyalurannya lebih tepat sasaran.

Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah untuk mendigitalkan pendataan kesejahteraan sosial secara nasional, sebagai fondasi bagi penyaluran bantuan yang lebih terukur dan terverifikasi.

Mengapa ini penting

Integrasi data puluhan juta warga ke dalam satu sistem perlinsos digital menandai langkah signifikan dalam transformasi digital sektor publik di Indonesia. Selama ini, data penerima bantuan sosial kerap tersebar di berbagai instansi dengan format dan standar yang berbeda, sehingga rawan duplikasi, ketidaktepatan sasaran, maupun keterlambatan penyaluran. Konsolidasi data dalam skala besar seperti ini berpotensi menjadi tulang punggung baru bagi layanan publik berbasis data di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga subsidi.

Bagi pembuat kebijakan dan pelaksana program GovTech, inisiatif ini menggarisbawahi pentingnya interoperabilitas data lintas lembaga sebagai prasyarat sebelum otomasi atau personalisasi layanan dapat berjalan efektif. Tanpa basis data yang bersih dan terverifikasi, upaya digitalisasi layanan sosial berisiko hanya memindahkan masalah lama ke platform baru.

Sudut pandang Renascence

Di balik angka besar ini terdapat pertaruhan yang lebih mendasar: keberhasilan digitalisasi data kesejahteraan sosial tidak ditentukan oleh seberapa besar data yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa akurat dan terpercaya data itu di mata warga yang bergantung padanya.

Kebanyakan orang akan menyoroti skala 50 juta data sebagai pencapaian teknis, tetapi yang sesungguhnya menentukan keberhasilan program ini adalah pengalaman warga saat data mereka salah, tertinggal, atau tidak terverifikasi — dan seberapa mudah mereka bisa memperbaikinya. Prinsip desain layanan yang sering diabaikan pemerintah adalah bahwa kepercayaan publik dibangun bukan dari kecepatan digitalisasi, melainkan dari adanya jalur koreksi yang jelas, manusiawi, dan cepat ketika sistem keliru. Operator layanan publik yang berorientasi pada warga semestinya merancang mekanisme pengaduan dan verifikasi ulang sejak awal, bukan sebagai tambalan setelah masalah muncul di lapangan.

Sources

This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.

FAQ

Questions we get on this topic

Luhut mengungkapkan bahwa data sekitar 50 juta warga tidak mampu di Indonesia akan segera diintegrasikan ke dalam sistem data perlindungan sosial (perlinsos) digital.

Tujuannya adalah merapikan basis data penerima bantuan sosial agar penyalurannya lebih tepat sasaran, mengurangi duplikasi, dan mempercepat verifikasi di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan subsidi.

Data penerima bantuan sosial selama ini tersebar di berbagai instansi dengan format berbeda, sehingga rawan ketidaktepatan sasaran; konsolidasi data berskala besar ini berpotensi menjadi fondasi layanan publik berbasis data yang lebih terintegrasi.

Menurut analisis Renascence, keberhasilan program ini bergantung pada seberapa akurat dan terpercaya data di mata warga, sehingga pemerintah perlu menyediakan mekanisme koreksi dan verifikasi ulang yang jelas, manusiawi, dan cepat sejak awal.

Stay ahead of CX

Get the signal, not the noise.

The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.