Umum · 2 Oktober 2026
Pemkab Ciamis Jalani Evaluasi Pemerintah Digital 2026, Sekda Andang Tekankan Efisiensi dan Kemudahan Akses Layanan
Pemkab Ciamis Jalani Evaluasi Pemerintah Digital 2026, Sekda Andang Tekankan Efisiensi dan Kemudahan Akses Layanan Jabarprov
Apa yang terjadi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis, Jawa Barat, menjalani proses evaluasi pemerintah digital 2026, sebuah agenda yang menilai sejauh mana penerapan teknologi digital dalam layanan publik di daerah tersebut telah berjalan. Sekretaris Daerah (Sekda) Ciamis, Andang, menegaskan bahwa fokus utama transformasi ini adalah efisiensi tata kelola dan kemudahan akses layanan bagi masyarakat.
Evaluasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan layanan publik berbasis digital dapat diakses secara lebih cepat, sederhana, dan merata oleh warga Ciamis. Pernyataan Sekda Andang menyoroti pentingnya aspek layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan sekadar pencapaian teknis dari sisi infrastruktur sistem.
Mengapa ini penting
Bagi para pemimpin di bidang transformasi digital sektor publik, langkah Pemkab Ciamis menggambarkan tren yang semakin umum di tingkat pemerintahan daerah di Indonesia: digitalisasi layanan publik kini dinilai bukan hanya dari ketersediaan sistem, melainkan dari dampaknya terhadap pengalaman warga sebagai pengguna layanan. Penekanan pada efisiensi dan kemudahan akses menunjukkan pergeseran cara pandang, dari sekadar "sudah punya sistem digital" menjadi "apakah sistem itu benar-benar memudahkan masyarakat".
Evaluasi semacam ini juga berfungsi sebagai mekanisme akuntabilitas yang mendorong pemerintah daerah untuk terus menyempurnakan layanan digitalnya, sekaligus menjadi acuan bagi daerah lain dalam merancang program GovTech yang berorientasi pada kebutuhan riil warga.
Pandangan Renascence
Inisiatif evaluasi pemerintah digital sering kali berhenti pada indikator teknis — jumlah layanan yang telah terdigitalisasi, atau tingkat kepatuhan terhadap standar sistem. Namun nilai sesungguhnya dari transformasi semacam ini baru terlihat ketika diukur dari pengalaman warga saat benar-benar menggunakan layanan tersebut.
Pernyataan Sekda Andang tentang efisiensi dan kemudahan akses patut dibaca sebagai sinyal bahwa ukuran keberhasilan digitalisasi layanan publik seharusnya bergeser dari "apakah sistemnya ada" menjadi "apakah warga merasa terbantu". Prinsip desain layanan yang baik selalu dimulai dari titik gesekan (friction) yang dialami pengguna, bukan dari kecanggihan platform itu sendiri. Pemerintah daerah yang ingin benar-benar berorientasi pada warga sebaiknya melengkapi evaluasi teknis semacam ini dengan pengukuran pengalaman pengguna secara langsung — misalnya waktu tunggu, tingkat penyelesaian layanan dalam satu kali kunjungan, atau kemudahan warga dengan literasi digital terbatas dalam mengakses layanan tersebut.
Sumber-sumber
Briefing ini ditulis oleh Newsdesk kami, mensintesis laporan dari media di bawah ini. Ikuti tautan untuk liputan aslinya.
Lainnya di Umum
Tetap terdepan dalam CX
Dapatkan sinyalnya, bukan kebisingannya.
Kisah-kisah yang membentuk pengalaman pelanggan — ditambah Jurnal dan Experience Loom — di kotak masuk Anda.
