Customer Experience · 10 August 2026
New Jersey Larang Surveillance Pricing, Negara Bagian AS Pertama
New Jersey menjadi negara bagian AS pertama yang melarang surveillance pricing, praktik penetapan harga berbasis data personal konsumen, lewat undang-undang baru yang ditandatangani gubernur.
Apa yang terjadi
Negara Bagian New Jersey di Amerika Serikat resmi menjadi negara bagian pertama yang melarang praktik surveillance pricing, setelah gubernur menandatangani undang-undang yang melarang peritel menetapkan harga berbeda kepada konsumen berdasarkan data pribadi yang menunjukkan kesediaan mereka membayar lebih.
Aturan baru ini secara spesifik menyasar praktik penetapan harga yang memanfaatkan data perilaku, riwayat belanja, lokasi, atau jejak digital konsumen untuk menyesuaikan harga secara individual — bukan berdasarkan segmentasi pasar yang umum, melainkan berdasarkan profil personal masing-masing pembeli. Dengan disahkannya undang-undang ini, New Jersey menetapkan batas hukum yang belum pernah ada sebelumnya di tingkat negara bagian di AS terhadap model penetapan harga berbasis data personal semacam ini.
Mengapa ini penting
Bagi dunia customer experience dan behavioral economics, langkah ini menandai titik balik penting: praktik personalisasi harga yang selama ini dianggap sebagai bagian "wajar" dari strategi data dan analitik kini mulai mendapat pengawasan regulasi yang serius. Selama ini, banyak peritel memanfaatkan data konsumen untuk menyesuaikan penawaran, namun batas antara personalisasi yang membantu pelanggan dan eksploitasi kesediaan membayar individual seringkali kabur.
Bagi desainer layanan dan tim pengalaman pelanggan, ini adalah sinyal bahwa kepercayaan konsumen terhadap penggunaan data pribadi semakin menjadi isu reputasi dan hukum, bukan sekadar isu etika internal. Perusahaan yang mengandalkan data perilaku untuk strategi harga kini perlu mengevaluasi ulang bagaimana transparansi dan keadilan harga dikomunikasikan kepada pelanggan.
Pengambilan sikap Renascence
Regulasi semacam ini sering dibaca sebagai ancaman bagi personalisasi. Padahal, masalah sesungguhnya bukan pada personalisasi itu sendiri, melainkan pada penggunaan asimetri informasi untuk mengambil keuntungan dari kerentanan individual konsumen — dua hal yang secara prinsip berbeda dalam behavioral economics.
Personalisasi yang baik membuat pengalaman lebih relevan bagi pelanggan; surveillance pricing membuat pelanggan menjadi objek yang dieksploitasi berdasarkan seberapa besar mereka bersedia membayar. Operator yang benar-benar customer-obsessed semestinya sudah membedakan dua hal ini jauh sebelum regulator turun tangan — dengan memastikan data perilaku digunakan untuk meningkatkan relevansi penawaran, bukan menaikkan margin dari sisi kelemahan psikologis pelanggan. Ke depan, tim pricing dan CX perlu duduk bersama sejak awal desain strategi harga, bukan hanya saat tim legal mulai bertanya.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
More in Customer Experience
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.