Customer Service · 12 October 2026
Twilio yang tercatat di NYSE membidik Asia-Pasifik seiring meningkatnya adopsi AI dalam layanan pelanggan
Twilio semakin memperdalam ekspansinya ke Asia-Pasifik, dengan menyebut percepatan adopsi AI oleh perusahaan dalam layanan pelanggan sebagai pendorong utama ekspansi tersebut.
Apa yang terjadi
Twilio, perusahaan platform komunikasi pelanggan yang tercatat di NYSE, mengumumkan perluasan fokus bisnisnya ke kawasan Asia-Pasifik. Langkah ini didorong oleh meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor layanan pelanggan oleh perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut.
Menurut laporan, Twilio melihat momentum pertumbuhan permintaan atas solusi berbasis AI untuk customer service sebagai alasan utama untuk memperdalam kehadirannya di Asia-Pasifik, kawasan yang dinilai semakin matang dalam mengadopsi teknologi otomatisasi dan AI untuk interaksi pelanggan.
Mengapa ini penting
Ekspansi ini menegaskan bahwa Asia-Pasifik kini dipandang sebagai salah satu pasar strategis bagi vendor teknologi customer experience berbasis AI, bukan sekadar pasar pelengkap. Bagi para pemimpin transformasi digital dan CX di kawasan ini, langkah Twilio menjadi sinyal bahwa permintaan atas platform komunikasi yang terintegrasi dengan AI — mulai dari chatbot pintar hingga orkestrasi omnichannel — diperkirakan akan terus tumbuh.
Bagi organisasi yang tengah mempertimbangkan modernisasi layanan pelanggan mereka, kehadiran vendor global yang memperluas investasi di kawasan ini dapat mempercepat akses terhadap teknologi, dukungan lokal, serta kompetisi yang pada akhirnya dapat mendorong inovasi layanan yang lebih cepat dan relevan secara lokal.
Pandangan Renascence
Ekspansi vendor teknologi besar ke suatu kawasan sering dibaca semata sebagai berita bisnis, padahal ia juga mencerminkan pergeseran ekspektasi pelanggan di kawasan tersebut terhadap kecepatan, personalisasi, dan konsistensi layanan.
Ketika vendor sekelas Twilio memperdalam investasinya di suatu kawasan, itu biasanya bukan taruhan spekulatif — melainkan respons terhadap permintaan nyata dari perusahaan yang pelanggannya sudah lebih dulu berubah. Risiko terbesar bagi operator lokal bukanlah tertinggal secara teknologi, melainkan mengadopsi AI dalam layanan pelanggan tanpa merancang ulang perjalanan pelanggan di baliknya — sehingga otomatisasi hanya mempercepat proses yang sebenarnya masih dirasa buruk oleh pelanggan. Yang perlu dilakukan operator yang benar-benar berorientasi pada pelanggan adalah memastikan investasi AI ini diiringi dengan desain layanan yang jelas: di mana AI benar-benar menambah nilai, dan di mana sentuhan manusia tetap menjadi penentu kepercayaan.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
More in Customer Service
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.
