AI · 2 November 2026
Penggunaan AI di UEA Capai 70,1%, Tertinggi dalam Laporan Microsoft
Sekitar 70,1% responden di Uni Emirat Arab secara aktif menggunakan AI, angka tertinggi di antara pasar yang diteliti Microsoft menurut laporan yang dikutip People Matters Global.
Apa yang terjadi
Laporan Microsoft yang dikutip People Matters Global menemukan bahwa 70,1% responden di Uni Emirat Arab secara aktif menggunakan alat kecerdasan buatan (AI). Angka ini tercatat sebagai tingkat penggunaan tertinggi di antara seluruh pasar yang diteliti dalam laporan tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI di negara tersebut sudah bergeser dari tahap uji coba menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Dengan kata lain, penggunaan AI tidak lagi terbatas pada kelompok perintis atau proyek percontohan, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang meluas di kalangan pengguna.
Sumber yang tersedia tidak merinci metodologi survei, rentang waktu pengumpulan data, maupun jenis alat AI yang dimaksud. Pembacaan yang lebih mendalam sebaiknya menunggu laporan lengkapnya.
Mengapa ini penting
Ketika sekitar tujuh dari sepuluh responden sudah memakai AI secara aktif, pertanyaan bagi organisasi bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu diadopsi, melainkan bagaimana AI mengubah cara layanan dirancang dan dijalankan. Ekspektasi pelanggan dan karyawan terhadap respons yang cepat, personal, dan tersedia kapan saja akan semakin dibentuk oleh pengalaman mereka dengan alat AI di luar pekerjaan.
Bagi para pemimpin transformasi digital, implikasinya adalah adopsi di tingkat pengguna kini bisa mendahului kesiapan organisasi. Model operasi, kanal layanan, dan tata kelola data perlu dikaji ulang agar tidak tertinggal dari perilaku pengguna yang sudah berubah. Di sektor publik maupun swasta, ini juga membuka pertanyaan tentang seberapa cepat layanan digital dapat menyesuaikan diri dengan harapan baru tersebut.
Sudut pandang Renascence
Kebanyakan pembaca akan membaca angka ini sebagai kabar tentang teknologi. Namun yang lebih penting adalah kebiasaan. Ketika AI menjadi standar default, pengguna mulai menilai setiap layanan lain berdasarkan kecepatan dan kejelasan yang mereka alami di alat tersebut. Prinsip perilaku di baliknya cukup sederhana: standar perbandingan pelanggan ikut bergeser. Organisasi yang masih memperlakukan AI sebagai proyek inovasi terpisah berisiko tertinggal, bukan karena teknologinya kurang, melainkan karena pengalaman layanannya terasa lambat dibanding apa yang sudah biasa dipakai pelanggan.
Mulailah dengan audit sederhana: pilih lima titik kontak pelanggan yang paling sering dikeluhkan dan tanyakan apakah pengguna bisa menyelesaikannya tanpa menunggu. Jangan menunggu strategi AI yang sempurna; bangun pengalaman yang terasa mudah lebih dulu, lalu pelajari tata kelolanya. Organisasi yang menunggu kepastian biasanya hanya mengejar standar yang sudah ditetapkan pelanggan mereka sendiri.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
FAQ
Questions we get on this topic
More in AI
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.


