General · 19 October 2026
Gubernur NTB Targetkan Semua Rumah Sakit Ramah Disabilitas
Gubernur Nusa Tenggara Barat menargetkan seluruh rumah sakit di provinsi itu menjadi ramah disabilitas, dengan kewajiban menyediakan petugas yang melayani pasien dengan bahasa isyarat.
Apa yang terjadi
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan seluruh rumah sakit di provinsi tersebut menjadi ramah disabilitas. Target ini disertai kewajiban agar setiap rumah sakit memiliki petugas yang mampu melayani pasien dengan bahasa isyarat.
Pemberitaan ini dihimpun dari ruang.id dan ditampilkan melalui Google News. Rincian mengenai tenggat waktu, mekanisme pengawasan, dan jumlah fasilitas yang terdampak belum tersedia dalam sumber yang kami gunakan, sehingga cakupan kebijakan ini perlu dipantau dari pernyataan resmi berikutnya.
Mengapa ini penting
Bagi pasien tuli dan penyandang disabilitas rungu wicara, rumah sakit adalah rangkaian titik sentuh yang panjang: pendaftaran, pemeriksaan awal, penjelasan diagnosis, persetujuan tindakan, hingga pengambilan obat. Setiap titik yang tidak dapat diakses menciptakan hambatan yang sering tidak terlihat oleh penyelenggara layanan, tetapi langsung dirasakan pasien.
Kebijakan yang menempatkan petugas berbahasa isyarat menunjukkan bahwa aksesibilitas mulai dipandang sebagai persoalan layanan, bukan sekadar fasilitas tambahan. Bagi pemimpin di bidang pengalaman pelanggan dan transformasi layanan, arah ini mengundang pertanyaan desain yang lebih luas: apakah perjalanan pasien tetap berfungsi ketika satu orang tertentu sedang tidak bertugas?
Pandangan Renascence
Mewajibkan petugas bahasa isyarat adalah langkah yang tepat, tetapi kebijakan ini paling kuat jika dibaca sebagai titik awal desain layanan, bukan solusi akhir.
Banyak penyelenggara akan menganggap keberadaan petugas bahasa isyarat sebagai tanda bahwa layanan sudah inklusif, padahal ketergantungan pada satu orang justru menciptakan titik kegagalan baru. Prinsip perilaku yang mendasarinya sederhana: pasien tidak boleh harus meminta bantuan untuk mendapatkan layanan yang sama. Operator yang berorientasi pada pelanggan sebaiknya memetakan ulang setiap titik sentuh dari sudut pandang pasien tuli, lalu menyediakan jalur komunikasi yang bisa berdiri sendiri, seperti formulir visual, informasi tertulis yang jelas, dan layar antrean yang dapat dibaca tanpa suara. Ukuran keberhasilannya bukan jumlah petugas yang direkrut, melainkan seberapa sering pasien dapat menyelesaikan kunjungannya tanpa bantuan tambahan.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
FAQ
Questions we get on this topic
More in General
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.


