Customer Service · 12 October 2026
Trellist Memadukan Data Perilaku dengan Wawancara Pelanggan Berbasis AI untuk Meningkatkan Daya Dongkrak Respons Langsung
Trellist telah meluncurkan pendekatan pemasaran respons langsung yang memadukan wawancara pelanggan kualitatif berbasis AI dengan data perilaku yang sudah ada untuk meningkatkan daya dongkrak kampanye.
Apa yang Terjadi
Trellist, perusahaan konsultan pemasaran dan pengalaman pelanggan, memperkenalkan pendekatan baru untuk kampanye direct response marketing yang memadukan data perilaku pelanggan yang sudah ada dengan wawancara kualitatif berbasis AI. Pendekatan ini dirancang untuk menggali motivasi dan hambatan di balik respons pelanggan terhadap kampanye, sehingga brand dapat menyempurnakan pesan dan penawaran guna meningkatkan tingkat konversi atau "lift".
Menurut Trellist, wawancara yang dipandu AI ini berfungsi sebagai lapisan tambahan di atas data kuantitatif yang telah dikumpulkan dari performa kampanye sebelumnya. Dengan menggabungkan dua jenis data tersebut, perusahaan mengklaim brand dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai alasan di balik perilaku pelanggan, bukan hanya pola perilaku itu sendiri.
Mengapa Ini Penting
Langkah Trellist mencerminkan tren yang lebih luas dalam pemasaran berbasis data: penggunaan AI generatif tidak lagi sebatas otomatisasi konten, tetapi mulai merambah ke riset pelanggan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan biaya besar bila dilakukan secara manual. Dengan AI yang dapat melakukan wawancara kualitatif secara skalabel, brand berpotensi memperoleh wawasan "mengapa" di balik data "apa" yang sudah mereka miliki — sebuah celah yang selama ini sulit diisi secara efisien.
Bagi para pemimpin di bidang pengalaman pelanggan dan transformasi digital, ini menunjukkan bagaimana AI mulai digunakan untuk memperkaya pengambilan keputusan pemasaran, bukan hanya mempercepat eksekusinya. Jika diterapkan dengan hati-hati, pendekatan semacam ini dapat membantu organisasi merancang kampanye yang lebih relevan secara perilaku, alih-alih sekadar mengandalkan segmentasi demografis atau data historis semata.
Pandangan Renascence
Yang sering luput dari perhatian dalam cerita seperti ini bukanlah teknologinya, melainkan disiplin di baliknya: menggabungkan data "apa yang terjadi" dengan pemahaman "mengapa itu terjadi" adalah prinsip dasar riset perilaku yang telah lama dikenal, kini dipercepat oleh AI.
Kombinasi data perilaku dan wawancara kualitatif berbasis AI ini sebenarnya adalah penerapan klasik dari prinsip "mixed-methods research" dalam ilmu perilaku — hanya saja kini dilakukan dengan kecepatan dan skala baru. Operator yang benar-benar berorientasi pada pelanggan semestinya tidak tergoda menjadikan AI sekadar alat efisiensi riset, melainkan menggunakannya untuk terus menguji asumsi tentang motivasi pelanggan sebelum menuangkannya ke dalam pesan kampanye. Risiko terbesarnya adalah bila wawasan dari wawancara AI diperlakukan sebagai kebenaran mutlak, padahal ia tetap memerlukan validasi dan konteks manusia agar tidak memperkuat bias yang sudah ada dalam data lama.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
More in Customer Service
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.


