Tentang Kami

Konsultan yang lahir dari persimpangan ekonomi perilaku dan pengalaman manusia.

KAMI SEDANG MEREKRUT

Bergabunglah dengan tim yang membentuk ulang cara dunia merasakan merek.

Lihat posisi yang tersedia →

PERUSAHAAN

BERKEMBANG BERSAMA KAMI

TERHUBUNG

Layanan

Konsultasi manajemen dan CX komprehensif untuk merek-merek perusahaan.

SEMUA LAYANAN

Jelajahi berbagai layanan konsultasi CX & manajemen.

Lihat semua layanan →

INTI

SPESIALIS

Solusi

Solusi terstruktur yang mengubah ambisi CX menjadi hasil terukur.

SEMUA SOLUSI

Jelajahi setiap solusi CX yang kami tawarkan.

Telusuri solusi →

STRATEGI & TATA KELOLA

DESAIN & PENGIRIMAN

BUDAYA & PENGALAMAN

Industri

Satu dekade transformasi CX di seluruh sektor utama di kawasan ini.

SEMUA INDUSTRI

Lihat bagaimana kami bekerja di setiap sektor.

Telusuri industri →

LINGKUNGAN BINAAN

KEUANGAN & TEKNOLOGI

ORANG & MOBILITAS

Produk

Alat, platform, dan AI milik Renascence yang mendorong transformasi CX.

SEMUA PRODUK

Jelajahi ekosistem produk Renascence selengkapnya.

Telusuri produk →

AI & TEKNOLOGI

PEMBELAJARAN & PERMAINAN

PLATFORM & PERANGKAT

PRODUK AI

Opini

Wawasan, riset, dan percakapan di garis depan CX.

BacaJurnal PengalamanArtikel & riset tentang CX, perilaku, dan transformasi.Tonton & dengarkanRangkai PengalamanPodcast video kami tentang CX & perilaku.TerpilihBerita CXBerita industri yang penting dalam CX, tanpa keramaian.

Artikel terbaru

Episode terbaru

Berita terbaru

Pusat

Alat, templat, dan sumber daya gratis untuk memajukan praktik CX Anda.

BARU · MANIFESTO

Bakar Deknya. Sepuluh Kebajikan. Nol Alasan. — baca manifesto kami untuk konsultan pemberani.

Mulai membaca →

ALAT AI

ALAT GRATIS

PEMBELAJARAN

BUDAYA

Umum · 20 Agustus 2026

Digitalisasi Muhammadiyah: Haedar Nashir Tekankan Transformasi Nalar

Haedar Nashir menegaskan digitalisasi Muhammadiyah harus disertai perubahan nalar, sikap, dan budaya kerja, bukan sekadar pengadaan teknologi baru.

Berita
Briefing Terkurasi · 2 menit baca · 2 sumber

Apa yang terjadi

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa agenda digitalisasi organisasi tidak boleh dipahami semata sebagai urusan pengadaan perangkat atau sistem teknologi. Ia menyampaikan bahwa proses digitalisasi Muhammadiyah harus disertai transformasi nalar, sikap, dan budaya berpikir warga persyarikatan, bukan sekadar penggantian cara kerja lama dengan alat baru.

Pernyataan ini disampaikan dalam konteks penguatan tata kelola organisasi Muhammadiyah, yang selama ini menaungi jaringan luas amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial. Haedar menekankan bahwa teknologi hanya akan efektif jika diiringi kesiapan cara berpikir yang lebih adaptif, terbuka, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata di lapangan.

Mengapa ini penting

Pesan ini relevan bagi organisasi besar mana pun, termasuk lembaga publik, korporasi, dan institusi keagamaan, yang sedang menjalankan transformasi digital. Investasi pada sistem, aplikasi, atau platform baru sering gagal memberi dampak signifikan apabila tidak dibarengi perubahan pola pikir, keterampilan pengambilan keputusan, dan budaya kerja di seluruh lapisan organisasi.

Bagi pemimpin transformasi digital dan desain layanan, pernyataan Haedar menggarisbawahi prinsip yang sudah lama dikenal namun kerap diabaikan: teknologi adalah pengganda dari kapasitas manusia, bukan pengganti kapasitas tersebut. Organisasi yang ingin digitalisasinya berdampak nyata pada pelayanan — baik kepada jemaah, siswa, pasien, maupun masyarakat umum — perlu memastikan perubahan mindset dan tata kelola berjalan seiring dengan adopsi alat digital.

Pandangan Renascence

Kutipan Haedar Nashir menyentuh persoalan klasik dalam transformasi digital: banyak organisasi memperlakukan digitalisasi sebagai proyek pengadaan teknologi, padahal keberhasilannya ditentukan oleh perubahan perilaku dan cara berpikir orang-orang di dalamnya.

Digitalisasi yang berhasil selalu dimulai dari pertanyaan "bagaimana kita berpikir dan melayani secara berbeda", bukan "aplikasi apa yang harus kita beli". Organisasi besar dengan jaringan layanan luas seperti Muhammadiyah punya risiko tersendiri: teknologi baru bisa berhenti sebagai formalitas administratif jika budaya kerja dan pola pengambilan keputusan di tingkat unit layanan tidak ikut berubah. Pemimpin transformasi yang cermat akan lebih dulu memetakan kesiapan nalar dan sikap SDM-nya, sebelum menentukan peta jalan teknologi — karena pada akhirnya, pengalaman yang dirasakan penerima layanan ditentukan oleh manusia yang mengoperasikan sistem, bukan oleh sistem itu sendiri.

Sumber-sumber

Briefing ini ditulis oleh Newsdesk kami, mensintesis laporan dari media di bawah ini. Ikuti tautan untuk liputan aslinya.

FAQ

Questions we get on this topic

Haedar Nashir menegaskan bahwa digitalisasi Muhammadiyah tidak boleh dipahami hanya sebagai pengadaan perangkat atau sistem teknologi, melainkan harus disertai transformasi nalar, sikap, dan budaya berpikir warga persyarikatan.

Menurut Haedar, teknologi hanya akan efektif jika diiringi kesiapan cara berpikir yang lebih adaptif, terbuka, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata di lapangan, bukan sekadar mengganti alat kerja lama.

Pesan ini relevan bagi organisasi besar lain seperti lembaga publik, korporasi, dan institusi keagamaan yang sedang menjalankan transformasi digital, karena investasi teknologi sering gagal berdampak tanpa perubahan pola pikir dan budaya kerja.

Menurut analisis Renascence, teknologi baru berisiko berhenti sebagai formalitas administratif jika budaya kerja dan pola pengambilan keputusan di tingkat unit layanan, seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, tidak ikut berubah.

Tetap terdepan dalam CX

Dapatkan sinyalnya, bukan kebisingannya.

Kisah-kisah yang membentuk pengalaman pelanggan — ditambah Jurnal dan Experience Loom — di kotak masuk Anda.