General · 20 October 2026
Digitalisasi Bansos Dikebut, Baru 9,2 Juta Keluarga Terdaftar
Digitalisasi program bantuan sosial di Indonesia sedang dipercepat, dan baru 9,2 juta keluarga yang telah melakukan registrasi, menurut laporan CNBC Indonesia. Pendaftaran digital masih berjalan dan belum mencakup seluruh penerima yang ditargetkan.
Apa yang terjadi
Digitalisasi program bantuan sosial di Indonesia sedang dipercepat, dan hingga saat ini baru 9,2 juta keluarga yang telah melakukan registrasi. Informasi ini dilaporkan oleh CNBC Indonesia dengan judul "Digitalisasi Bansos Dikebut, Baru 9,2 Juta Keluarga yang Registrasi".
Angka tersebut menunjukkan bahwa proses pendaftaran digital masih berjalan dan belum mencakup seluruh penerima yang ditargetkan. Materi sumber yang tersedia bagi kami hanya memuat judul dan ringkasan singkat, sehingga rincian mengenai jangka waktu, lembaga pelaksana, dan target pendaftaran belum dapat kami pastikan.
Mengapa ini penting
Dari sudut pandang transformasi digital sektor publik, registrasi bansos secara daring menjadi salah satu indikator seberapa jauh layanan pemerintah bergeser dari proses manual ke platform terpusat. Perubahan seperti ini tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga pola kerja institusi, cara data warga dikelola, dan bagaimana keluarga penerima berinteraksi dengan layanan negara.
Bagi pemimpin di bidang pengalaman pelanggan dan layanan publik, kuncinya ada pada kemudahan akses. Proses registrasi yang sederhana, jelas, dan dapat diselesaikan oleh warga yang tidak terbiasa dengan teknologi akan menentukan apakah digitalisasi benar-benar memperluas jangkauan layanan.
Perspektif Renascence
Pembahasan digitalisasi bansos sering berhenti pada jumlah pendaftar. Padahal, angka pendaftaran hanya menggambarkan siapa yang berhasil masuk ke sistem, bukan siapa yang tertinggal di luar sistem.
Jumlah keluarga yang sudah terdaftar adalah ukuran kemajuan yang mudah dihitung, tetapi kurang memadai untuk menilai keberhasilan. Prinsip desain layanan yang penting di sini adalah mengurangi beban kognitif dan biaya waktu bagi penerima, terutama mereka yang memiliki akses internet atau literasi digital terbatas. Operator layanan publik sebaiknya mengukur tingkat penyelesaian proses per kelompok warga, bukan hanya total pendaftar. Jika kelompok yang belum terjangkau tidak diidentifikasi sejak awal, digitalisasi berisiko mempercepat ketimpangan yang sudah ada.
Sources
This briefing was written by our Newsdesk, synthesising reporting from the outlets below. Follow the links for the original coverage.
FAQ
Questions we get on this topic
More in General
Stay ahead of CX
Get the signal, not the noise.
The stories shaping customer experience — plus the Journal and Experience Loom — in your inbox.


